Kalimat it’s okay sering kita dengar dalam bahasa Inggris sehari-hari. Tapi jika diterjemahkan secara literal, arti “it’s okay” bisa menjadi tidak apa-apa atau tidak masalah.
Meski begitu, arti “it’s okay” tidak selalu kaku ke “tidak apa-apa” dalam semua konteks. Maknanya bisa bergeser tergantung nada bicara, situasi, atau kultur bahasa penggunanya.
Misalnya:
-
Ketika seseorang minta maaf dan kita menanggapi dengan “it’s okay”, kita menyiratkan bahwa kita memaafkan.
-
Namun dalam situasi lain, “it’s okay” bisa bermakna “semuanya baik-baik saja” atau “tidak usah khawatir”.
Jadi, meskipun terjemahan literalnya sederhana, konteks sangat penting agar makna “it’s okay” tersampaikan dengan tepat.
Jenis Makna “It’s Okay” Berdasarkan Konteks
Agar tidak salah kaprah, berikut beberapa varian arti “it’s okay” berdasarkan situasi:
| Situasi | Arti yang masuk akal | Contoh |
|---|---|---|
| Permintaan maaf | Mengiyakan bahwa Anda memaafkan | “Maaf saya terlambat.” – “It’s okay.” → “Tidak apa-apa.” |
| Penolakan | Menolak sesuatu dengan sopan | “Mau saya bantu?” – “It’s okay, saya bisa sendiri.” |
| Konfirmasi bahwa keadaan baik | Menyatakan bahwa situasi tak buruk | “Bagaimana kabarmu?” – “It’s okay.” → “Baik-baik saja.” |
| Melembutkan penolakan | Agar orang tak tersinggung | “Mau ikut taksi?” – “No, it’s okay, saya jalan kaki saja.” |
Dalam tulisan maupun lisan, “it’s okay” lebih lembut dan empatik dibandingkan “no” langsung. Itu sebabnya frasa ini populer dalam percakapan.
Perbedaan Antara “It’s Okay”, “Okay”, dan “That’s OK”
Walau tampak mirip, ketiga ungkapan ini bisa punya nuansa berbeda. Berikut pembedaannya:
-
“It’s okay”: lebih personal, menyiratkan izin, pengertian, atau pemulihan suasana.
-
“Okay”: lebih netral, biasa digunakan sebagai persetujuan atau menanggapi sesuatu.
-
“That’s OK”: lebih menjelaskan bahwa sesuatu situasi tidak bermasalah.
Contoh:
-
“— Maaf saya meminjam bukumu.
— It’s okay, ambil saja.” -
“— Mau saya antar?
— Okay, terima kasih.” -
“— Ada noda di bajumu?
— That’s OK, saya bisa cuci sendiri.”
Dalam praktik sehari-hari, ketiganya sering digunakan bergantian. Tapi memahami nuansa membantu kita memilih kata yang paling cocok dalam komunikasi.
Bagaimana “It’s Okay” Digunakan dalam Bahasa Indonesia?
Bahasa Indonesia telah banyak menyerap kata dari bahasa Inggris, termasuk okay dan it’s okay. Beberapa contoh penggunaan:
-
“It’s okay, aku paham maksudmu.” → Kita memahami maksud orang tersebut.
-
“Tidak apa-apa” → padanan paling umum dalam bahasa sehari-hari.
-
“Gak apa-apa” → versi informal dari “tidak apa-apa”, sering dipakai dalam percakapan santai.
Di Indonesia, orang tidak heran mendengar “it’s okay” langsung dalam ranah sehari-hari, terutama dalam budaya pop, media sosial, percakapan gaul. Tetapi dalam komunikasi formal, lebih aman menggunakan “tidak apa-apa” atau “tidak masalah”.
Kesalahan Umum dalam Menggunakan “It’s Okay”
Sebagai seseorang yang aktif dalam bahasa (sebagai penulis atau pembelajar), saya sering melihat kesalahan pemakaian “it’s okay”. Berikut beberapa jebakan yang sering muncul:
-
Menerjemahkan “it’s okay” secara kaku
Misalnya, menerjemahkan “it’s okay” selalu menjadi “itu baik-baik saja”, padahal dalam konteks meminta maaf, maknanya “tidak apa-apa”. -
Nada atau intonasi diabaikan
“It’s okay?” dan “It’s okay.” berbeda. Intonasi bisa mengubah makna menjadi pertanyaan atau penegasan. -
Tidak menyesuaikan dengan budaya penerima
Dalam budaya yang lebih formal atau sopan, penggunaan “it’s okay” bisa dianggap terlalu santai. -
Menggunakan “it’s okay” ketika tidak cocok
Misalnya, ketika orang mengutarakan kesedihan berat, mengatakan “it’s okay” saja bisa terkesan meremehkan perasaan.
Tips Agar “It’s Okay” Terasa Alami dan Tepat
Agar penggunaan “it’s okay” terasa wajar dan efektif dalam bahasa Inggris maupun Indonesia, berikut tips dari saya:
-
Pahami konteks dan hubungan antara pembicara dan penerima.
-
Sesuaikan nada—hindari nada datar jika Anda ingin memberi empati.
-
Gunakan bersama kata lain seperti “Thanks”, “Don’t worry”, “I understand” agar lebih ramah.
-
Latih variasi kalimat: “It’s okay, no problem”, “It’s okay, I understand”, dan lain-lain.
-
Perhatikan budaya lokal. Di komunikasi formal di Indonesia, lebih baik tetap menggunakan “tidak apa-apa” atau “tidak masalah”.
Opini Saya: Kenapa Ungkapan Sederhana Ini Penting
Bagi saya, “it’s okay” bukan sekadar frase. Kalimat ini punya kekuatan. Ia bisa:
-
Menenangkan seseorang yang cemas atau bersalah
-
Memperlihatkan empati
-
Membangun suasana komunikasi yang nyaman
Dalam pengajaran bahasa, saya melihat bahwa pelajar kadang terlalu fokus pada grammar dan struktur hingga mengabaikan makna sosial dari ungkapan ini. Padahal dalam komunikasi manusiawi, kehangatan sering lebih penting daripada ketepatan struktur.
Kesimpulan
-
It’s okay sering diterjemahkan sebagai tidak apa-apa atau tidak masalah dalam bahasa Indonesia.
-
Arti pastinya tergantung konteks, nada, dan budaya.
-
Ada perbedaan nuansa antara “it’s okay”, “okay”, dan “that’s OK”.
-
Salah penggunaan bisa menimbulkan kesalahpahaman.
-
Gunakan tips agar ungkapan ini terasa wajar dan diterima oleh lawan bicara.
Semoga artikel ini memberikan pencerahan tentang arti “it’s okay” dan membantu Anda memakai ungkapan ini dengan percaya diri dalam berbagai situasi!










Leave a Reply